Artikel berikut mungkin sesuai dengan kebutuhan dan masalah di lndustri Anda:
– Cara mengetahui pengotor yang ada di dalam air
– Cara mengolah air tanah
– Cara mengolah air permukaan
– Membedakan air permukaan dengan air tanah
– Memahami impuritas dalam air
– Pengendalian pH dalam air
– Pengendalian alkalinitas dalam air
– Pengendalian silika dalam air
Semoga artikel ini membantu Anda.

BAB 1 SUMBER, PENGOTOR, DAN SIFAT KIMIA AIR

Keberlangsungan sebuah industri sangatlah bergantung pada ketersediaan air bersih. produksi air bersih. Air bersih dibutuhkan dalam jumlah yang sangat besar untuk menjalankan berbagai proses di dalam industri. Beberapa contohnya adalah untuk proses produksi, proses pendinginan produk dan peralatan proses, sebagai air umpan boiler, air minum, dan juga untuk sanitasi.

Siklus air global
Secara alamiah, air yang jumlahnya terbatas di bumi akan melalui berbagai macam proses recycle yang cukup rumit. Proses ini berlangsung sehingga diperoleh air bersih dan dapat digunakan kembali oleh makhluk hidup. 
pengolahan air Pada umumnya, siklus ini disebut Siklus Hidrologi. Dapat dilihat bahwa Industri merupakan salah satu komponen yang cukup memiliki peran dalam siklus air global sebab penggunaan air bersih yang cukup besar.

Gambar 1.1 Siklus Air

Dalam siklus air, beberapa proses yang terjadi diantaranya adalah evaporasi, kondensasi, presipitasi. Evaporasi atau penguapan merupakan proses terjadinya perubahan air dari fasa cair menjadi fasa gas. Dalam siklus air, evaporasi dipengaruhi oleh sinar matahari sehingga jumlah air yang menguap tidaklah selalu sama setiap waktu. Sesampainya air dalam fasa gas di atmosfer, air akan mengalami proses kondensasi karena terjadi penurunan temperatur pada atmosfer, sehingga terbentuklah awan di langit. Awan-awan tersebut akan bergerak jauh tertiup angin, beberapa sampai mencapai daratan, sebelum pada akhirnya melepaskan air bersih dan terjadilah fenomena hujan. Selanjutnya air bersih akan tertampung dan meresap ke tanah atau mengalir kembali ke lautan, dan siklus air pun terulang. Saat air hujan turun melewati atmosfer, air dapat menyerap gas-gas yang berada di udara, dan terjadilah fenomena hujan asam.produksi air bersih pengolahan air

Air sebagai pelarut
Air murni (H2O) tersusun atas molekul-molekul hidrogen dan oksigen, mempunyai karakter tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa. Umumnya, air mampu melarutkan setiap senyawa organik yang ada di bumi. Oleh karena itu, air disebut juga sebagai “pelarut universal”.

Namun, meskipun air mampu melarutkan senyawa-senyawa dengan sangat baik, di sisi lain, air juga dapat menyebabkan ancaman untuk peralatan-peralatan industri. Apabila air yang tidak diolah terlebih dahulu menjadi air bersih jika digunakan dalam peralatan industri, air tersebut dapat memicu terjadinya korosi, sebab pada umumnya peralatan industri terbuat dari material logam. Timbulnya korosi akan menyebabkan terlarutnya senyawa logam pada permukaan peralatan sehingga akan menurunkan kualitas alat.

Jika air masuk ke dalam suatu reaksi dan temperaturnya berubah-ubah, hal ini akan menyebabkan sejumlah senyawa tidak larut dan mengendap pada alat. Peristiwa ini dapat terjadi karena proses pelarutan senyawa dipengaruhi oleh temperatur reaksi. Endapan tersebut dinamakan scaling. Scaling dapat mengakibatkan terganggunya proses perpindahan panas pada suatu alat, sehingga reaksi yang terjadi dalam alat tersebut dapat terganggu.

Oleh karena itu, teknologi pengolahan air bersih sangatlah penting untuk diterapkan dalam suatu industri, yang tujuannya adalah untuk mengendalikan terjadinya fenomena seperti korosi dan scaling, supaya tidak menimbulkan kerugian yang besar bagi industri.produksi air bersih

Water impurities
Impurities merupakan zat pengotor yang terkandung dalam sebuah senyawa/larutan. Di dalam sebuah larutan, impurities dapat berupa padatan terlarut (dissolved solids) maupun padatan tersuspensi (suspended solids). Sebagai contoh, kalsium bikarbonat merupakan jenis garam yang dapat larut dalam air (dissolved solids). Larutan kalsium bikarbonat yang terbentuk akan tampak bening tak berwarna, sebab ion-ion kalsium dan bikarbonat terlarut menjadi ukuran yang sangat kecil sehingga tidak mampu memantulkan cahaya. Akan tetapi, ada pula garam mineral yang dapat membuat larutan tampak berwarna. Larutan garam besi akan tampak berwarna kuning pucat atau hijau; beberapa jenis garam tembaga akan membentuk larutan berwarna biru. Meskipun demikian, larutan-larutan tersebut tetap terlihat jernih. 
pengolahan air

Suspended solid merupakan jenis zat yang tidak larut dalam air dan biasanya masih berbentuk partikel-partikel dalam larutan. Partikel itulah yang menyebabkan larutannya terlihat keruh.

Suspended solid maupun dissolved solid, keduanya umum dijumpai pada air permukaan (surface water). Air laut misalnya, mengandung garam sodium klorida terlarut dalam konsentrasi tinggi. Namun dengan adanya pasir dan endapan-endapan lainnya, maka itu menyebabkan air laut terlihat agak keruh. Pada Tabel 1.1 dapat dilihat beberapa jenis impurities yang dapat ditemui dalam air  produksi air bersih

Tabel 1.1 Jenis impurities yang umum ditemukan dalam air

Impurities

Rumus kimia

Kerugian yang ditimbulkan

Jenis treatment

Turbidity/ kekeruhan

Larutan tampak kotor dan tidak jernih, menyebabkan terjadinya pengendapan pada pipa maupun pada alat proses

Koagulasi, settling, Dan filtrasi

Hardness/ kesadahan

Berupa garam kalsium dan magnesium; dinyatakan dalam CaCO3

Sumber utama scaling pada alat penukar panas., boiler, dan perpipaan.

Softening, demineralization, internal boiler water treatment

Alkalinity

Ion Bikarbonat , ion karbonat, dan hidroksida; dinyatakan dalam CaCO3

Menimbulkan foam, carry over partikel padatan dengan steam, embrittlement pada maaterial boiler, dapat menimbulkan CO2 yang breakibat korosi pada aliran kondensat.

Lime dan lime soda softening. Treatment asam, hidrogen zeolite softening, anion exchange

Asam mineral bebas

H2SO4, HCl; dinyatakan dalam CaCO3

Korosi

Netralisasi dengan alkali

Karbon dioksida

CO2

Korosi pada aliran pipa, umumya pada aliran steam dan kondensat.

Aeration, deaeration, netralisasi dengan alkali

pH

Konsenrasi ion Hdinyatakan dalam

pH = – log [H+]

pH bervariasi bergantung pada kandungan senyawa asam/basa pada larutan.

pH ditingkatkan dengan menambahkan basa, dan diturunkan dengan menambahkan asam

Sulfat

SO42-

Menyebabkan scaling kalsium sulfat ; Meningkatkan solid konten dalam air

Demineralisasi, RO, elektrodialisis, evaporasi

Klorida

Cl

Meningkatkan sifat korosifitas pada air; Meningkatkan solid konten dalam air

Demineralisasi, RO, elektrodialisis, evaporasi

Nitrat

NO3

Embrittlement pada boiler; Meningkatkan solid konten dalam air

Demineralisasi, RO, elektrodialisis, evaporasi

Florida

F

Berpengaruh pada kesehatan gigi; tidak berpengaruh signifikan dalam industri

Adsorpsi dengan magnesium hidroksida, kalsium pospat; koagulasi alum

Sodium

Na+

Meningkatkan solid konten dalam air; dalam kondisi tertentu dapat menyebabkan korosi bila bereaksi dengan OH

Demineralisasi, RO, elektrodialisis, evaporasi

Silika

SiO2

Scaling pada boiler dan cooling water sistem

Proses removal dengan pemanasan dengan garam magnesium; adsorpsi dengan anion resins basa kuat dengan demineralisasi, RO, evaporasi

Besi

Fe2+

Fe3+

Mempengaruhi warna air; sumber deposit pada aliran air, boiler, dll.

Aerasi, koagulasi dan filtrasi, lime softening, kation exchange

Aluminum

Al3+

Deposit pada sooling sistem dan scaling pada boiler

Perbaiki klarifier dan filter

Oksigen

O2

Korosi pada aliran air, alat penukar panas, boiler, return line, dll.

Deaerasi, sodium sulfit, inhibitor korosi

Dissolved solid

Dalam konsentrasi yang tinggi dapat menyebabkan foaming pada boiler

Lime softening dan kation exchange dengan hidrogen zeolit; demineralisasi; RO; electrodialisis; evaporasi

Suspended solids

Partikel tak larut; dapat menyebabkan deposit pada alat penukar panas, boiler, aliran air, dll

Filtrasi, koagulasi, settling.

Total solids

Total dissolved dan suspended solids

Menyebabkan deposit maupun foaming

Lihat “dissolved solids” dan “suspended solids”

Air Permukaan
Arah aliran air hujan dan air salju pada daratan akan sangat bergantung pada kondisi topologi tanah yang dilewatinya. Pada daerah dengan kondisi tanah yang tersusun atas tanah liat, biasanya sangat sedikit air yang terserap ke dalam tanah. Hal ini menyebabkan sebagian besar air melimpah pada bagian permukaan tanah (run-off).  Run-off atau disebut juga limpahan air, akan terkumpul menjadi aliran-aliran kecil dan menuju ke sungai. Sungai akan mengalir menuju muara, hingga akhirnya kembali menuju laut, dan Siklus hidrologi pun akan berulang seperti dapat dilihat pada Gambar 1.1

Saat air mengalir pada permukaan tanah, pasir dan tanah yang ada pada permukaan dapat terbawa dalam aliran dan menyebabkan terbentuknya endapan. Selain itu, aliran air yang cukup deras juga mampu mengerosi permukaan bebatuan yang mana akan menghasilkan lebih banyak pasir dan dapat terbawa oleh air.

Saat aliran air bertumbukan pada bebatuan maka secara alami akan membuatnya ter-aerasi. Adanya oksigen, sinar matahari, dan nutrisi anorganik yang terbawa oleh air dari permukaan, secara tidak langsung akan mendukung munculnya kehidupan biota-biota air, seperti alga, fungi, bakteri, krustasea, dan juga ikan.

Pada umumnya, sungai dikelilingi dengan pepohonan di sepanjang alirannya. Gugurnya dedaunan maupun patahnya ranting-ranting dan akar pohon ke dalam sungai, menyebabkan tingginya kandungan organik dalam air. Seiring waktu, zat organik tersebut dapat terlarut dan apabila air tersebut digunakan untuk kegiatan industri, hal ini dapat menimbulkan masalah saat dilakukan pengolahan air.produksi air bersih pengolahan air

Secara kimiawi dan fisika, karakteristik zat pengotor pada air permukaan akan bervariasi seiring waktu. Umumnya, hal ini dipengaruhi oleh kejadian alam, baik yang terjadi dalam waktu singkat, maupun dalam waktu yang lama. Pada waktu singkat, contohnya adalah saat terjadinya badai. Badai yang kuat akan membawa dan dapat memindahkan partikel-partikel asing dalam waktu yang singkat bahkan meskipun lokasinya berjauhan dari badan air.

Dalam kurun waktu yang lama, musim yang berganti dapat mempengaruhi karakteristik air permukaan. Saat musim hujan, limpasan air akan memiliki intensitas yang tinggi. Hal ini dapat menyebabkan pengaruh positif maupun negatif, tergantung kondisi geokimia dan biologis pada topografi tanah. Musim kemarau berkepanjangan dapat menyebabkan terbatasnya ketersediaan air untuk penggunaan industri. Kandungan kimiawinya pun akan terpengaruh akibat menurunnya jumlah air pada air permukaan. Oleh sebab itu, industri-industri pengguna air itu harus mempertimbangkan kondisi air yang bervariasi saat mendesain program pengolahan air. 

Air Tanah
Air hujan yang jatuh pada tanah yang berpori, seperti pasir, atau tanah lempung, dapat meresap ke dalam lapisan tanah tersebut. Dalam perjalanannya, air akan meresap hingga ke berbagai lapisan tanah yang mengandung berbagai macam mineral kompleks dan dapat membawa mineral-mineral tersebut ke lapisan yang lebih dalam. contoh mineral yang umum ditemukan adalah granit, gneiss, basalt, dan shale.

Tidak seperti air permukaan, air tanah mengandung lebih sedikit, bahkan bebas dari zat pengotor suspended solid, karena dalam perjalanannya melewati lapisan-lapisan tanah, air akan tersaring secara alami menjadi air bersih. Proses penyaringan ini pun akan menghilangkan banyak kontaminasi biologis. Namun, beberapa jenis air tanah yang mengandung kadar zat besi tinggi, biasanya akan mengandung bakteri pereduksi sulfat. Hal ini bisa menjadi sumber masalah dalam industri, yang mana dapat menyebabkan fouling dan korosi.

Karakteristik kimiawi air tanah biasanya cukup stabil seiring waktu, karena tersimpan di dalam tanah dan kejadian alam yang terjadi di atmosfer tidak berpengaruh signifikan pada air tanah. Mungkin akan mengandung zat yang tidak diinginkan dan dapat menyebabkan scaling, namun karena karakteristiknya yang stabil, air tanah masih mungkin untuk diolah dengan efektif.

Tabel 1.2 Perbandingan karakteristik air permukaan dan air tanah

Karakteristik

Air permukaan

Air tanah

Turbidity

Tinggi

Rendah

Mineral terlarut

Rendah-sedang

Tinggi

Biological content

Tinggi

Rendah

Temporal variability

Sangat tinggi

Rendah

Reaksi-reaksi mineral
Dalam perjalanannya, air tanah yang meresap di dalam tanah mungkin menjumpai berbagai jenis mineral, dan sangat mungkin terjadi peristiwa pelarutan mineral tersebut, sehingga terbawa meresap ke lapisan yang lebih dalam. Reaksi-reaksi kimia lain pun bisa terjadi dalam kondisi tertentu apabila air tanah bertemu dengan zat lain.

Salah satu contohnya adalah reaksi air tanah dengan kapur. Dari permukaan, air tanah dapat menyerap/melarutkan gas-gas dari atmosfer lalu meresap ke dalam tanah. Contoh gas yang terlarut adalah karbon dioksida. Selain dari udara, karbon dioksida juga dapat berasal dari hasil dekomposisi senyawa-senyawa organik yang ada dalam tanah. Apabila terlarut dalam air, gas COakan berubah bentuk menjadi senyawa asam karbonat. Hal ini menyebabkan air tanah bersifat agak asam. Limestone atau kapur, merupakan campuran dari senyawa kalsium dan magnesium karbonat. Mineral ini bersifat basa dan sedikit larut dalam air netral.produksi air bersih pengolahan air

Ketika air tanah yang bersifat agak asam bereaksi dengan limestone, maka reaksi yang akan terjadi adalah reaksi penetralan, sehingga akan terbentuk garam dan air. Garam yang terbentuk adalah kalsium dan magnesum bikarbonat (disebut juga hardness), yang mudah larut dalam air, sehingga mungkin air akan terlihat jernih meskipun mengandung senyawa tersebut. Hal inilah yang menyebabkan permasalahan yang biasanya ditemui dalam industri, yaitu terbentuknya scaling kalsium dan magnesium, dan korosi pada alat akibat hardness yang terkandung dalam air tanah dan tidak terlihat dengan kasat mata. Apabila air tanah tersebut tidak diolah terlebih dahulu sebelum digunakan, Hardness dapat membentuk scale pada permukaan/dinding alat dan mengganggu proses perpindahan panas. Dalam penggunaan untuk air umpan boiler (boiler feedwater), hardness dalam air akan bereaksi akibat tingginya temperatur boiler, dan senyawa bikarbonat dapat berubah kembali menjadi karbon dioksida. Kandungan karbon dioksida yang tinggi akan terbawa dalam kondensat, dimana hal ini dapat menyebabkan terjadinya korosi pada alat.

Lapisan tanah memiliki pori-pori yang bentuk dan ukurannya bergantung dari struktur penyusun lapisan tanah tersebut. Lapisan yang tersusun atas Limestone memiliki struktur yang berpori dan membentuk channel, yang disebut “inter-stices”. Struktur ini dapat menampung air tanah dalam jumlah yang cukup besar pada pori-porinya, sehingga limestone disebut juga “aquifers”, yang berarti penampung air dalam bahasa Latin. Oleh karena lapisan limestone mengandung air yang banyak, umumnya penggalian sumur dilakukan hingga mencapai kedalaman lapisan limestone. Sumur-sumur tersebut banyak dimanfaatkan untuk keperluan domestik maupun keperluan industri karena cadangan airnya tersedia dalam jumlah banyak dan keluar terus menerus. Akan tetapi, air tanah dari lapisan limestone sangat bersifat sadah, karena mengandung hardness dan terjadinya reaksi netralisasi seperti pada penjelasan di atas. Oleh sebab itu, pengolahan air sangat diperlukan sebelum air tanah tersebut digunakan.

Reaksi kimia
Untuk mengukur efektifitas water treatment program, sejumlah test perlu dilakukan. Terdapat tiga jenis test yang cukup penting dan umum dilakukan di banyak sistem, yaitu test pH, alkalinitas, dan silika. Disini, akan dibahas mengenai ketiga jenis test tersebut.

  • Pengendalian pH

Pengendalian pH merupakan hal yang sangat penting dilakukan dalam upaya mengendalikan peristiwa scaling dan korosi yang bisa terjadi dalam berbagai sistem proses yang menggunakan air. Maka dari itu pengertian dan faktor-faktor yang mempengaruhi pH harus dipahami dengan baik.

Air murni (H2O) mengandung ion hidrogen (H+), yang berkontribusi dalam sifat asam, dan ion hidroksil (OH­­), yang berkontribusi pada sifat basa. Dalam temperatur ruang, ion hidrogen dan ion hidroksil berada dalam jumlah yang seimbang, yaitu pada konsentrasi 10-7 gram equivalent (mol) per liter. Hal ini lah yang menyebabkan pH air murni bersifat netral.produksi air bersih pengolahan air

Dalam ilmu kimia, fungsi “p”, seperti pada “pH”, digunakan untuk menyatakan bilangan yang sangat kecil. Dengan itu, suatu bilangan akan diubah menjadi bentuk logaritmik negatifnya. Misalnya air yang memiliki konsentrasi ion Hsebesar 10-7 gram equivalent/liter , akan memiliki pH sebesar 7. Dengan demikian, air yang bersifat netral akan memiliki nilai pH sebesar 7.

Dapat dilihat pada Tabel 1-3, daftar konversi konsentrasi ion H+ sebanyak 14 tingkat. Oleh karena ion H+ tersebut bervariasi, maka konsentrasi ion OHpun ikut bervariasi, namun pada arah yang berbeda, disebabkan karena jumlah kedua ion tersebut konstan dalam suatu sistem.

Tabel 1.3 pH dan pOH

pHa

Konsentrasi H+ dalam eksponensial, 

gram moles/L

HKonsentrasi, Normality

Konsentrasi OH , Normality

Konsentrasi OH  dalam eksponensial, gram moles/L

pOH

0

100

1.00

0.00000000000001

10-14

14

1

10-1

0.10

0.0000000000001

10-13

13

2

10-2

0.01

0.000000000001

10-12

12

3

10-3

0.001

0.00000000001

10-11

11

4

10-4

0.0001

0.0000000001

10-10

10

5

10-5

0.00001

0.000000001

10-9

9

6

10-6

0.000001

0.00000001

10-8

8

7

10-7

0.0000001

0.0000001

10-7

7

8

10-8

0.00000001

0.000001

10-6

6

9

10-9

0.000000001

0.00001

10-5

5

10

10-10

0.0000000001

0.0001

10-4

4

11

10-11

0.00000000001

0.001

10-3

3

12

10-12

0.000000000001

0.01

10-2

2

13

10-13

0.0000000000001

0.10

10-1

1

14

10-14

0.00000000000001

1.00

100

0

apH + pOH =14

    

Perlu diperhatikan bahwa ketika konsentrasi asam meningkat, maka nilai pH akan menurun (lihat Tabel 4).

Tabel 1.4 Perbandingan nilai pH pada berbagai larutan

pH

Keterangan

12

alkalinitas OH- 500 ppm sebagai CaCO3

11

alkalinitas OH- 50 ppm sebagai CaCO3

10

alkalinitas OH- 5 ppm sebagai CaCO3

9

efluen anion exchanger basa kuat

8

titik akhir phenophtalein

7

titik netral pada suhu 25oC

6

Weymouth, NIA, air minum a

5

titik akhir methyl orange

4

FMA 4 ppm sebagai CaCO3

3

FMA 40 ppm sebagai CaCO3;
efluen cation exchanger asam kuat

2

FMA 400 ppm sebagai CaCO3

a pH air minum ekstrim

Dalam pengukuran pH, umumnya digunakan pH meter. Skala pada pH meter adalah skala yang linear dari 1-14. Akan tetapi, karena perhitungan pH merupakan fungsi logaritmik, maka perubahan satu unit pH akan sebanding dengan 10 kali lipatnya perubahan konsentrasi asam di dalam larutan. Penurunan dua unit pH sebanding dengan 100 kali lipatnya perubahan konsentrasi asam.

  • Alkalinitas

Pada sistem pengolahan air, salah satu parameter yang cukup penting adalah kandungan alkalinitas sebab kandungan alkalinitas dapat mempengaruhi reaksi dan proses lain yang dilakukan pada industri. Umumnya, tes alkalinitas dilakukan untuk mengontrol proses softening dan juga untuk menentukan jumlah air blowdown pada boiler. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya scaling pada sistem cooling water pada industri.

Pada mulanya, senyawa karbon dioksida pada air tanah akan larut dan akan bereaksi dengan air menjadi asam karbonat seperti persamaan reaksi berikut

Meskipun hanya terbentuk asam karbonat (H2CO3) dalam konsentrasi yang rendah, jumlah tersebut cukup bersifat asam sehingga mampu menurunkan pH air menjadi lebih rendah dari 7. Sifatnya yang berupa asam lemah mungkin tidak akan menurunkan pH hingga di bawah 4. Namun, pada level tersebut, asam sudah mampu untuk memicu terjadinya korosi pada peralatan yang bermaterial logam.produksi air bersih pengolahan air

Dari reaksi tersebut, apabila konsentrasi CO2 dibuat konstan dan pH air dinaikkan, maka akan terjadi peningkatan laju reaksi perubahan spesi asam karbonat menjadi spesi ion bikarbonat HCO3, seperti dapat dilihat pada Gambar 2. Perubahan spesi asam karbonat menjadi ion bikarbonat akan selesai pada pH 8.3. Bila pH dinaikkan lebih dari 8.3, maka perubahan spesi akan berlanjut menjadi ion karbonat H2CO3– hingga asam karbonat dan ion bikarbonat habis. Jadi, ketiga jenis spesi—asam karbonat, ion bikarbonat, dan ion karbonat akan dapat berubah dari satu spesi ke spesi lainnya dengan cara mengubah pH air.

Gambar 1.2 Distribusi asam karbonat, bikarbonat, dan karbonat sebagai fungsi pH

Variasi pH dapat dikurangi dengan metode buffering, yaitu menambahkan larutan tersebut dengan asam (atau basa). Ketika larutan asam/basa ditambahkan pada air yang mengandung spesi ion karbonat/bikarbonat, pH larutan tidak akan berubah secara signifikan, dibandingkan jika ditambah dengan air murni. Hal ini terjadi karena asam yang ditambahkan akan bereaksi dengan ion karbonat/bikarbonat yang ada, dan tercipta kondisi “buffer”.

Alkalinitas dapat diasosiasikan dengan kemampuan air untuk menetralkan asam (contohnya adalah pengurangan kemampuan menurunkan pH yang berasal dari asam kuat seperti pada metode buffering yang dijelaskan sebelumnya). Mungkin hal yang dapat membuat bingung adalah seperti kita tahu, bahwa senyawa alkali (basa) memiliki pH diatas 7, sedangkan alkalinitas air berada pada pH 4.4.

Alkalinitas dapat diukur dengan cara double-titration. Pertama, larutan asam ditambahkan ke dalam sampel hingga ke titik akhir phenophtalein (pH 8.3) dan hingga titik akhir methyl orange (pH 4.4). Titrasi menuju titik akhir phenophtalein (P-alkalinity) menunjukkan konsentrasi ion OH dan CO32- , sedangkan titrasi menuju titik akhir methyl orange (M-alkalinity) menunjukkan konsentrasi OH, CO32-, dan HCO3.

  • Silica

Silika merupakan salah satu zat pengotor dalam air yang apabila jumlahnya tidak dikendalikan, akan menyebabkan terbentuknya desposit/scaling pada permukaan alat. Scaling ini sangat sulit untuk dihilangkan dan dapat menurunkan laju perpindahan panas pada cooling system, boiler, dan juga turbin. Oleh sebab itu, pengujian kandungan silika perlu dilakukan untuk mengetahui besar konsentrasinya dalam air untuk menghindari peristiwa scaling tersebut.pengolahan air

Silika dalam bentuk padatannya merupakan kristal. Namun, tidak seperti garam pada umumnya, yang meskipun memiliki struktur kompleks dalam fasa padatan, akan menjadi ion-ion yang sederhana ketika dilarutkan, silika tetap memiliki struktur yang kompleks meskipun telah terlarut dalam larutan.produksi air bersih

Silika dapat dijumpai dalam berbagai bentuk senyawa, dari senyawa silika sederhana, hingga material polimerik yang sangat rumit. Dalam bentuk polimer tersebut, struktur silika sangat sulit terurai bila dilarutkan dengan air permukaan. Ukurannya pun beragam, bahkan ukurannya dapat mencapai ukuran partikel koloid.

Silika koloid ini umumnya terdapat pada air permukaan, terlebih pada saat limpasan air terjadi dalam intensitas yang tinggi. Namun kebalikannya, silika koloid cukup jarang ditemukan dalam kandungan air tanah.

Polimer silika pada umumnya tidak menampakkan warna pada saat diuji dengan metode standard kolorimetri dengan basis molybdate. Silika jenis ini merupakan jenis silika yang “nonreaktif”. Tetapi, silika jenis ini bersifat tidak stabil dalam temperatur tinggiapabila dipanaskan di dalam boiler, polimer silika tersebut akan kembali menjadi bentuk dasarnya, yaitu monomer silikat, yang mana lebih reaktif bila direaksikan dengan molibdat.

Jadi, apabila dilakukan pengujian molibdate pada air umpan boiler, konsentrasi silika yang terdeteksi bisa jadi sangat kecil bahkan hampir tidak ada, dibandingkan dengan air blowdown boiler yang sangat mungkin silika terdeteksi dalam konsentrasi yang sangat tinggi. Tingginya nilai silika dalam air boiler dan rendahnya silika dalam air umpan ini seringkali menunjukkan bahwa silika koloid berada dalam konsentrasi yang tinggi pada air make up.produksi air bersih pengolahan air

Metode lain untuk menguji silika koloid ini dapat dilakukan dengan menggunakan emisi atom atau absorpsi untuk mengukur kadar silika dalam air umpan. Tidak seperti metode pengujian molibdate, metode ini akan mengukur total silika yang ada dalam suatu sampel terlepas dari bentuk polimernya.

Referensi:
Suez Water Technologies & Solutions. “Handbook of Industrial Water Treatment”

Jl. Pelajar Pejuang 45 No. 43
Kota Bandung, Jawa Barat

WA  : 082237062772
Telp : 0227317077

Copyright 2021 solusitirtaoptima.com